Wednesday, September 15, 2010

Sejarah suku batak

Batak merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia. Nama ini merupakan sebuah terma kolektif untuk mengidentifikasikan beberapa suku bangsa yang bermukim dan berasal dari Tapanuli, Sumatera Utara. Suku bangsa yang dikategorikan sebagai Batak adalah Karo, Pakpak, Dairi, Toba, Simalungun, Mandailing, dan Angkola.

Sebagian besar orang Batak menganut agama Kristen dan sebagian lagi beragama Islam. Tetapi ada pula yang menganut agama Malim (pengikutnya biasa disebut dengan Parmalim) dan juga penganut kepercayaan animisme (disebut Pelebegu atau Parbegu), walaupun kini jumlah penganut kedua ajaran ini sudah semakin berkurang.

Sejarah :
Topografi dan alam Tapanuli yang subur, telah menarik orang-orang Melayu Tua (Proto Melayu) untuk bermigrasi ke wilayah Danau Toba sekitar 4.000 - 7.000 tahun lalu. Bahasa dan bukti-bukti arkeologi menunjukkan bahwa orang-orang Austronesia dari Taiwan telah berpindah ke Sumatera dan Filipina sekitar 2.500 tahun lalu, dan kemungkinan orang Batak termasuk ke dalam rombongan ini.[2]. Selama abad ke-13, orang Batak melakukan hubungan dengan kerajaan Pagaruyung di Minangkabau yang mana hal ini telah menginspirasikan pengembangan aksara Batak.[3]. Pada abad ke-6, pedagang-pedagang Tamil asal India mendirikan kota dagang Barus, di pesisir barat Sumatera Utara. Mereka berdagang kamper yang diusahakan oleh petani-petani Batak di pedalaman. Produksi kamper dari tanah Batak berkualitas cukup baik, sehingga kamper menjadi komoditi utama pertanian orang Batak, disamping kemenyan. Pada abad ke-10, Barus diserang oleh Sriwijaya. Hal ini menyebabkan terusirnya pedagang-pedagang Tamil dari pesisir Sumatera[4]. Pada masa-masa berikutnya, perdagangan kamper banyak dikuasai oleh pedagang Minangkabau yang mendirikan koloni di pesisir barat dan timur Sumatera Utara. Koloni-koloni mereka terbentang dari Barus, Sorkam, hingga Natal.

-Penyebaran agama :

Masuknya Islam :

Dalam kunjungannya pada tahun 1292, Marco Polo melaporkan bahwa masyarakat Batak sebagai orang-orang "liar yang musyrik" dan tidak pernah terpengaruh oleh agama-agama dari luar. Meskipun Ibn Battuta, mengunjungi Sumatera Utara pada tahun 1345 dan mengislamkan Sultan Al-Malik Al-Dhahir, masyarakat Batak tidak pernah mengenal Islam sebelum disebarkan oleh pedagang Minangkabau. Bersamaan dengan usaha dagangnya, banyak pedagang Minangkabau yang melakukan kawin-mawin dengan perempuan Batak. Hal ini secara perlahan telah meningkatakan pemeluk Islam di tengah-tengah masyarakat Batak. Pada masa Perang Paderi di awal abad ke-19, pasukan Minangkabau menyerang tanah Batak dan melakukan pengislaman besar-besaran atas masyarakat Mandailing dan Angkola. Namun penyerangan Paderi atas wilayah Toba, tidak dapat mengislamkan masyarakat tersebut, yang pada akhirnya mereka menganut agama Protestan. Kerajaan Aceh di utara, juga banyak berperan dalam mengislamkan masyarakat Karo, Pakpak, dan Dairi.

Misionaris Kristen :

Pada tahun 1824, dua misionaris Baptist asal Inggris, Richard Burton dan Nathaniel Ward berjalan kaki dari Sibolga menuju pedalaman Batak.[8] Setelah tiga hari berjalan, mereka sampai di dataran tinggi Silindung dan menetap selama dua minggu di pedalaman. Dari penjelajahan ini, mereka melakukan observasi dan pengamatan langsung atas kehidupan masyarakat Batak. Pada tahun 1834, kegiatan ini diikuti oleh Henry Lyman dan Samuel Munson dari Dewan Komisaris Amerika untuk Misi Luar Negeri.[9]

Pada tahun 1850, Dewan Injil Belanda menugaskan Herman Neubronner van der Tuuk untuk menerbitkan buku tata bahasa dan kamus bahasa Batak - Belanda. Hal ini bertujuan untuk memudahkan misi-misi kelompok Kristen Belanda dan Jerman berbicara dengan masyarakat Toba dan Simalungun yang menjadi sasaran pengkristenan mereka.[10].

Misionaris pertama asal Jerman tiba di lembah sekitar Danau Toba pada tahun 1861, dan sebuah misi pengkristenan dijalankan pada tahun 1881 oleh Dr. Ludwig Ingwer Nommensen. Kitab Perjanjian Baru untuk pertama kalinya diterjemahkan ke bahasa Batak Toba oleh Nommensen pada tahun 1869 dan penerjemahan Kitab Perjanjian Lama diselesaikan oleh P. H. Johannsen pada tahun 1891. Teks terjemahan tersebut dicetak dalam huruf latin di Medan pada tahun 1893. Menurut H. O. Voorma, terjemahan ini tidak mudah dibaca, agak kaku, dan terdengar aneh dalam bahasa Batak.

Masyarakat Toba dan Karo menyerap agama Nasrani dengan cepat, dan pada awal abad ke-20 telah menjadikan Kristen sebagai identitas budaya. Pada masa ini merupakan periode kebangkitan kolonialisme Hindia-Belanda, dimana banyak orang Batak sudah tidak melakukan perlawanan lagi dengan pemerintahan kolonial. Perlawanan secara gerilya yang dilakukan oleh orang-orang Batak Toba berakhir pada tahun 1907, setelah pemimpin kharismatik mereka, Sisingamangaraja XII wafat.

Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) telah berdiri di Balige pada bulan September 1917. Pada akhir tahun 1920-an, sebuah sekolah perawat memberikan pelatihan perawatan kepada bidan-bidan disana. Kemudian pada tahun 1941, Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) didirikan

Kepercayaan :

Sebelum suku Batak menganut agama Kristen Protestan, mereka mempunyai sistem kepercayaan dan religi tentang Mulajadi Nabolon yang memiliki kekuasaan di atas langit dan pancaran kekuasaan-Nya terwujud dalam Debata Natolu.

Menyangkut jiwa dan roh, suku Batak mengenal tiga konsep, yaitu:

* Tondi : adalah jiwa atau roh seseorang yang merupakan kekuatan, oleh karena itu tondi memberi nyawa kepada manusia. Tondi di dapat sejak seseorang di dalam kandungan.Bila tondi meninggalkan badan seseorang, maka orang tersebut akan sakit atau meninggal, maka diadakan upacara mangalap (menjemput) tondi dari sombaon yang menawannya.
* Sahala : adalah jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang. Semua orang memiliki tondi, tetapi tidak semua orang memiliki sahala. Sahala sama dengan sumanta, tuah atau kesaktian yang dimiliki para raja atau hula-hula.
* Begu : adalah tondi orang telah meninggal, yang tingkah lakunya sama dengan tingkah laku manusia, hanya muncul pada waktu malam.

Demikianlah religi dan kepercayaan suku Batak yang terdapat dalam pustaha. Walaupun sudah menganut agama Kristen dan berpendidikan tinggi, namun orang Batak belum mau meninggalkan religi dan kepercayaan yang sudah tertanam di dalam hati sanubari mereka. Ada juga kepercayaan yang ada di Tarutung tentang ular (ulok) dengan boru Hutabarat, dimana boru Hutabarat tidak boleh dikatakan cantik di Tarutung. Apabila dikatakan cantik maka nyawa wanita tersebut tidak akan lama lagi, menurut kepercayaan orang itu.

Kekerabatan :

Kekerabatan adalah menyangkut hubungan hukum antar orang dalam pergaulan hidup. Ada dua bentuk kekerabatan bagi suku Batak, yakni berdasarkan garis keturunan (genealogi) dan berdasarkan Sosilogis, sementara kekerabatan teritorail tidak ada.

Bentuk kekerabatan berdasarkan garis keturunan (genealogi) terlihat dari silsilah marga mulai dari Si Raja Batak, dimana semua suku bangsa Batak memiliki marga. Sedangkan kekerabatan berdasarkan sosiologis terjadi melalui perjanjian (padan antar marga tertentu) maupun karena perkawinan. Dalam tradisi Batak, yang menjadi kesatuan Adat adalah ikatan sedarah dalam marga, kemudian Marga. Artinya misalnya Harahap, kesatuan adatnya adalah Marga Harahap vs narga lainnya. Berhubung bahwa Adat Batak/Tradisi Batak sifatnya dinamis yang seringkali disesuaikan dengan waktu dan tempat berpengaruh terhadap perbedaan corak tradisi antar daerah.

Adanya falsafah dalam perumpamaan dalam bahasa Batak Toba yang berbunyi: Jonok dongan partubu jonokan do dongan parhundul. merupakan suatu filosopi agar kita senantiasa menjaga hubungan baik dengan tetangga, karena merekalah teman terdekat. Namun dalam pelaksanaan adat, yang pertama dicari adalah yang satu marga, walaupun pada dasarnya tetangga tidak boleh dilupakan dalam pelaksanaan Adat.

Falsafah dan sistem kemasyarakatan

Masyarakat Batak memiliki falsafah, azas sekaligus sebagai struktur dan sistem dalam kemasyarakatannya yakni Tungku nan Tiga atau dalam Bahasa Batak Toba disebut Dalihan na Tolu, yakni Hula-hula, Dongan Tubu dan Boru ditambah Sihal-sihal. Dalam Bahasa Batak Angkola Dalihan na Tolu terdiri dari Mora, Kahanggi, dan Anak Boru

* Hulahula/Mora adalah pihak keluarga dari isteri. Hula-hula ini menempati posisi yang paling dihormati dalam pergaulan dan adat-istiadat Batak (semua sub-suku Batak). Sehingga kepada semua orang Batak dipesankan harus hormat kepada Hulahula (Somba marhula-hula).

* Dongan Tubu/Kahanggi disebut juga Dongan Sabutuha adalah saudara laki-laki satu marga. Arti harfiahnya lahir dari perut yang sama. Mereka ini seperti batang pohon yang saling berdekatan, saling menopang, walaupun karena saking dekatnya kadang-kadang saling gesek. Namun pertikaian tidak membuat hubungan satu marga bisa terpisah. Diumpamakan seperti air yang dibelah dengan pisau, kendati dibelah tetapi tetap bersatu. Namun demikian kepada semua orang Batak (berbudaya Batak) dipesankan harus bijaksana kepada saudara semarga. Diistilahkan, manat mardongan tubu.

* Boru/Anak Boru adalah pihak keluarga yang mengambil isteri dari suatu marga (keluarga lain). Boru ini menempati posisi paling rendah sebagai 'parhobas' atau pelayan baik dalam pergaulan sehari-hari maupun (terutama) dalam setiap upacara adat. Namun walaupun burfungsi sebagai pelayan bukan berarti bisa diperlakukan dengan semena-mena. Melainkan pihak boru harus diambil hatinya, dibujuk, diistilahkan: Elek marboru.

Namun bukan berarti ada kasta dalam sistem kekerabatan Batak. Sistem kekerabatan Dalihan na Tolu adalah bersifak kontekstual. Sesuai konteksnya, semua masyarakat Batak pasti pernah menjadi Hulahula, juga sebagai Dongan Tubu, juga sebagai Boru. Jadi setiap orang harus menempatkan posisinya secara kontekstual.

Sehingga dalam tata kekerabatan, semua orang Batak harus berperilaku 'raja'. Raja dalam tata kekerabatan Batak bukan berarti orang yang berkuasa, tetapi orang yang berperilaku baik sesuai dengan tata krama dalam sistem kekerabatan Batak. Maka dalam setiap pembicaraan adat selalu disebut Raja ni Hulahula, Raji no Dongan Tubu dan Raja ni Boru.

Tarombo :


Silsilah atau Tarombo merupakan suatu hal yang sangat penting bagi orang Batak. Bagi mereka yang tidak mengetahui silsilahnya akan dianggap sebagai orang Batak kesasar (nalilu). Orang Batak khusunya kaum laki-laki diwajibkan mengetahui silsilahnya minimal nenek moyangnya yang menurunkan marganya dan teman semarganya (dongan tubu). Hal ini diperlukan agar mengetahui letak kekerabatannya (partuturanna) dalam suatu klan atau marga.
[sunting] Kontroversi

Belakangan sebagian orang Simalungun, Karo, Angkola, dan Mandailing tidak menyebut dirinya sebagai bagian dari suku Batak. Dalam sensus penduduk tahun 1930 dan 2000, pemerintah mengklasifikasikan Simalungun, Karo, Toba, Mandailing,Pakpak dan Angkola sebagai etnis Batak.

Banyak orang yang berpandangan demikian karena mereka kurang mengetahui apa dan siapa itu orang Batak. Semua marga yang ada di Simalungun, Karo, Angkola, dan Mandailing mempunyai pertalian darah dengan marga-marga induk yang pada umumnya berada di daerah Toba.

Sunday, September 12, 2010

Chelsea FC


Chelsea Football Club has been good at celebrating special anniversaries. The year 2005 saw us reach the major milestone of 100 years-old. What better way was there to mark the centenary than by becoming champions of England for the second time in our existence?

Our golden jubilee had been similarly honoured. The club won silverware in the 1960s, the 70s, the 90s and at the turn of the new millennium, but 1955 was the year we finished above all other teams in the League for the first time.

It was also Chelsea's earliest major trophy. The first five decades had seen the club develop into an integral part of sporting life in England's capital city with famous players and a large, often full stadium.

Chelsea were popular, but achievement fell a long way short of that now enjoyed by the current team, which began the second 100 years of Chelsea history as the best in the land and the biggest football story throughout the world.

Even if trophy success proved elusive in the first 50 years, the club had been set up for the big time from the moment Henry Augustus Mears had a change of heart one Sunday morning in the autumn of 1904.

Of all the decisions that have shaped the history of Chelsea FC, there can be none more crucial than the one this Edwardian businessman made that particular day.

Gus Mears was an enthusiast for a sport that had taken northern Britain by storm but had yet to take off in the capital in quite the same way. London at the turn of the century failed to provide a single team to the Football League First Division.

Mears had spotted the potential for a football club to play at an old athletics ground at Stamford Bridge, an open piece of land in west London. It was a ground he planned to massively redevelop.

But unforeseen problems had followed, as did a lucrative offer for the land. Mears was on the verge of selling up and abandoning his sporting dream.

Colleague Frederick Parker, an enthusiastic supporter of the football stadium project attempted to dissuade him but on the fateful Sunday morning, Parker was told he was wasting his time.

As the two walked on, without warning Mears' dog bit Parker, drawing blood and causing great pain, but only an amused reaction from Parker.

"You took that bite damn well," Mears announced before telling his accomplice he would now trust his judgement over others. "Meet me here at nine tomorrow and we'll get busy," he said. Stamford Bridge was alive once more.

Not that Chelsea FC was in the original plan. The finest sports stadium in London seemed a little out of place on the edge of well-heeled and arty Chelsea but as history shows, Mears had chosen well. The proximity to the vibrant centre of town made it perfect as a new venue for football.

Due to financial disagreement, nearby Fulham Football Club, already in existence declined an offer to abandon the less grand Craven Cottage and move in. So in contrast to the history of so many clubs, Mears decided to build a team for a stadium, rather than the other way round.

On March 10th 1905, a meeting convened opposite the stadium in a pub now called The Butcher's Hook. One item on the agenda was a name for the new club. Stamford Bridge FC, Kensington FC and intriguingly, London FC were all rejected. Chelsea FC was what it was to be - and the story had begun.

John Tait Robertson, a Scottish international was the first player/manager and a squad of respected players was signed, providing a league could be found to compete in.

The Southern League was the natural choice for our location but they were unwelcoming to these upstarts. Undaunted, Chelsea simply set our sights higher and went straight for the northern-dominated Football League.

On May 29th 1905, the Football League AGM dramatically elected us to the Second Division. Parker again proved persuasive as we became the first club ever to make the League without having kicked a ball.

Thursday, September 9, 2010

Kumpulan Software

for Browsers and Plugins Downloads:

Firefox 4.0 Beta 2
Flock 2.6.1
Google Chrome 6.0.472.14 Beta
Opera 10.60
Safari 5.0.1



for Anti-Malware Downloads:

Ad-Aware 8.3.0.0
AntiVir Personal 10.0.0.567
Avast! Free Antivirus 5.0.594
AVG Anti-Spyware 7.5.1.43
AVG Free Edition 9.0.851
BitDefender 10 Free Edition
Kaspersky Anti-Virus 11.0.1.400
McAfee VirusScan 10
NOD32 AntiVirus 4.2.58
Norton AntiVirus 2010 16.5.0.134



for Audio and Video Downloads:

Adobe Media Player 1.7
Any Video Converter 3.07
Windows 7 Codecs 2.5.9
Winamp 5.581 Full
VLC Media Player 1.1.2
Vista Codec Package 5.8.0
Media Player Classic 6.4.9.1
K-Lite Codec Pack 6.20 (Full)
GOM Player 2.1.26.5021
Codec Pack All-In-1 6.0.3.0



for Photos and Images Downloads:

ACDSee 12.0.344
Google Earth 5.2.1 Beta
Picasa 3.6 Build 105.67
PaintShop Photo Pro X3
Inkscape 0.47



for Messaging and Chat Downloads:

Gizmo Project 4.0.5.400
Google Talk 1.0.0.104 Beta
mIRC 7.1
Skype 4.2.0.169
Yahoo! Messenger 10.0.0.1270



for File Transfer Downloads:

FileZilla 3.3.3
FlashGet 3.5.0.1126
Free Download Manager 3.0.852
GetRight 6.3e
Orbit Downloader 4.0.1



for Office and News Downloads:

Adobe Reader 9.3.3
Foxit Reader 4.0.0.0619
OpenOffice.org 3.2.1
PDFCreator 1.0.1



for Developer Tools Downloads:

MySQL 5.1.49
NetBeans IDE 6.9
Notepad++ 5.7
NSIS 2.46
phpMyAdmin 3.3.5
PostgreSQL 8.4.4.1
Python 2.7
VirtualBox 3.2.6.63112
VMware Server 2.0.2
VMware Player 3.1.0

Kiranya bermanfaat untuk semua

Wednesday, September 8, 2010

Pidato Bung Karno "ganyang malaysia"

Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!

Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu

Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.

Serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.

Yoo...ayoo... kita... Ganjang...
Ganjang... Malaysia
Ganjang... Malaysia
Bulatkan tekad
Semangat kita badja
Peluru kita banjak
Njawa kita banjak
Bila perlu satoe-satoe!

Soekarno.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...