Monday, June 25, 2012

Gunung Merapi (2.968 Mpdl)





Perjalanan kali ini sebenarnya beberapakali mngalami hambatan, Dari yang ketingalan kereta Ps. Senen-Lempuyangan hingga batalnya seorang teman (Sebut saja namanya Kecot/Franky Sidabutar) hingga akhirnya kami berdua (Amri "Jhon Terry" Sianturi & Robet Napitupuluh) yang melakukan perjalanan mendaki Gunung Merapi. rencana disusun sebelum beberapa minggu sebelum hari keberangkatan. Pada hari H keberangkat kami berusaha mencari tiket kereta api menuju Jogjakarta, karena bertepatan dengan long weekend maka kami kehabisan tiket kereta api dan akhirnya kami memutuskan menunda keberangkatan pada esok harinya. Keesokan harinya kami pun mengalami hambatan kembali, Kereta yang kami ingin tumpanggi dengan teganya meningalkan kami berdua hingga akhirnya kami mimilih kereta jurusan Semarang.

Setibanya kami di Stasiun Semarang Tawang, Kami berdua menyempatkan untuk berwisata kuliner di kawasan Stasiun Semarang Tawang (Nyari rumah makan yang murah). Setelah berjalan beberapa meter ke arah barat, Kami melihat ada sati rumah makan yang sangat mewah (Biar keliatan elit). Tanpa pikir panjang kami segera meyantap makanan yang telah kami pesan, Sambil menunggu kereta jurusan Seamarang-Solo. Stelah perut kami terisi oleh segumpal makanan yang kami makan tadi, Akhirnya kereta jurusan Solo yang kami tunggu tiba. Tanpa pikir panjang, Kami pun langsung membeli tiket dan mencari kursi untuk melanjutkan mimpi kami yang terputus di Kereta jurusan Jakarta-Semarang.






Setelah menunggu beberapa jam, Akhirnya kami sampai di Stasiun Solo Balapan pada siang harinya. Setelah melakukan diskusi sebentar dengan seorang teman (Robet Napituluh), Kami memutuskan untuk melakukan kembali Wisata Kuliner di daerah Solo sembari mencari beberapa Jerigen untuk stok air kami selama pendakian. setelah perut kembali terisi dan jerigen air sudah terbeli kami memutuskan untuk kembali ke Stasiun Balapan solo sembari berfoto-foto ria sepanjang perjanan menuju Stasiun dan menunggu kereta jurusan Solo Balapan-Tugu. Setelah beberapa lama kami menunggu, Akhirnya kereta yang kami tunggu pun tiba hingga akhirnya kami sampai di Stasiun Tugu (Yogyakarta). Sesampainya kami di Jogja kamipun memutuskan untuk melakukan perjalanan ke kaki Gunung merapi (Kinaharjo), Dan di sini kami kembali mengalami kesialan dengan tidak adanya Angkot pada malam hari menuju Kaliurang, Dengan sangat berat Hati kami melakukan Jalan Kaki dari terminal angkot yang kami lupa namanya hingga Kantor SAR Kaliurang. Kamipun berencana melakukan pedakian pada esok harinya, Tapi tantangan kembali menerpa kami setelah kami mendengar bahwa Pendakian menuju Puncak Merapi dari Kinaharjo sudah tidak di buka kembali sejak 1995. Di sini kami sempat mengalami patah semangat, Dan terbesit untuk kembali ke Tangerang sembari mnunggu waktu yang pas di lain kesempatan. Lalu kamipun menumpang Truck Garam menuju Jogja dan pulang sembari menginap sehari di rumah teman yang kuliah di Jogja. Sesampainya di Kosan seorang teman, Saya dan Robet kembali mendiskusikan kembali tentang rencana kami mendaki Gunung Merapi di kosan teman. Setelah kami melakukan diskusi beberapa lama akhirnya kami memutuskan meminta Bantuan dana IMF kepada beberapa Someone, Karna persedian Hepeng/Uang kami sudah tidak memungkinkan melanjutkan perjalanan yang masih panjang.

Akhirnya pagipun datang bersamaan dengan Transferan dari Someone, Tanpa pikir panjang kami pun kembali bersiap merapihkan perlengkapan dan berangkat tujuan terminal Jogja. Setelah beberapakali naik turun Bis, Akhirnya kami tiba di sebuah Pasar (Maaf ya pasar, Ane lupa tanya namanya). Di sini kami mengalami hambatan kembali, Bis yang menuju Kopeng sudah tidak ada. Akhirnya kami memutuskan menggunakan jasa Kendaraan Roda dua (Ojek) menuju kopeng.

Tanpa pikir panjang kami langsung melakukan pendakian menuju Basecamp, Sesampainya di basecamp kami re-packing perbekalan, makan malam dngan mie yang iklanya SUDAH, MAKAN DULU SANA sambil penyesuaian kondisi tubuh dengan kondisi lingkungan di basecamp. Setelah dirasa cukup penyesuaian kami berdua berkoordinasi dan setelah mengisi air untuk pembekalan nanti kami saat pendakian kami pun berangkat dari basecamp yang berada di ketinggian 1680 m.


Seperti di pendakian pada umumnya maka perjalanan di menit pertama ini yang paling berat karena kondisi otot belum siap untuk kerja yang berat terutama bagi kami yang jarang berolahraga. Jalur pertama yaitu jalan aspal menanjak sampai ujung jalan aspal terdapat warung dengan tulisan NEW SELO diatasnya, karena kami berjalan terlalu cepat sehingga menyebabkan kondisi fisik dan psikologis salah satu teman tidak siap dengan perubahan ketinggian, tekanan dan jalan yang menanjak sehingga menyebabkan down.

Perjalanan berlanjut berdua, saya (amri Sianturi) dan teman saya (Robet Napitupuluh) menyusuri perkebunan penduduk. Untung bagi kami karena cuaca cerah dan jalan yang basah akibat hujan kemarin, karena dengan jalanan dengan tanah yang lembut maka akan berdebu jika kering dan licin jika hujan. Berjalan pelan-pelan sambil mengkalibrasi otot-otot kaki karena kamiberdua bagaikan mesin tua yang jarang di tune up dan langsung dipakai kerja berat. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menyusuri jalur yang terus menanjak sejak dari basecamp, sesampainya di persimpangan kami memilih melewati jalur kartini yang relatif lebih landai. Kami kembali istirahat 10 menit pada pukul 23.15 di ketinggian 2165 m, ternyata setelah melanjutkan perjalanan menanjak sebentar kami tiba di Watu Gajah yang mempunyai ketinggian 2343 meter.


Setelah melewati Watu Gajah kami menyusuri jalur batu yang terjal, disini kami istirahat agak lama untuk  menikmati indahnya gemerlap lampu kota Solo, Boyolali dan Magelang. Perjalanan kami lanjutkan, jalur ini lebih berat dari jalur sebelumnya karena lebih terjal dengan batu-batu yang besar sehingga mengharuskan kami istirahat lagi pada pukul 01.10 di ketinggian 2415 m. Namun tidak lama kami melanjutkan perjalanan,  kami tiba di Pos II yang berada di ketinggian 2470 m, disini kami  tidak istirahat dan lengsung melanjutkan perjalanan.

Jalur setelah Pos II ternyata lebih berat lagi, jalur terjal dengan batuan vulkanik muda yang lepas dan tajam ditambah dengan gerusan-gerusan dalam akibat erosi yang kuat sehingga banyak jalur-jalur sempit. Disini kami berjalan pelan-pelan sambil memilih jalur untuk dilewati, kemudian kami melanjutkan perjalanan dan istirahat lagi. kami sampai pada suatu dataran berbatu, Akhirnya Saya dan teman saya memutuskan untuk mendirikan Tenda. Pagi pun tiba, Tanpa pikir panjang kamipun menikmati indahnya pagi hari di Gunung merapai sambil bernarsis-narsis ria (Belajar jadi model). Setelah bernarsis-narsis ria kami memutuskan untuk segera makan agar tidak kesiangan menuju puncak. Setelah makan kami pun melakukan kembali melakukan pendakian dengan menyusuri dataran yang tidak begitu lebar kami akhirnya tiba di suatu punggungan dimana kami bisa melihat tempat lapang berbatu luas yang disebut Pasar Bubrah di ketinggian 2605 m, tempat tersebut tepat berada di kaki Puncak Gunung Merapi dan biasa menjadi tempat mendirikan tenda untuk istirahat bagi para pendaki sebelum melanjutkan perjalanan menuju Puncak Garuda.



Saya dan teman saya mulai mengelilingi Pasar Bubrah sambil berfoto-foto ria dan beberapa kali foto narsis dengan bibir melengkung (Ala Facebook). Sehabis berfoto-foto riakami kembali melanjutkan pendakian yang Very, Very Melehakan. Dari pasar bubrah menuju puncak sangantlah rawan, Karna titik kemiringan jalur pendakian menuju puncak mencapai 110 Derajat Dan Trecknya sendiri berupa batu-batu kerikil kecil dan besar yang jika salah dalam menentukan pijakan bisa sangat berbahaya.

Setelah berjalan beberapa lama akhirnya kami berdua sampai di Puncak Gunung Merapi, tanpa aba-aba kamipun menikmati pemandangan yang begitu luar biasa (Sambil berfikir, Indahnya ciptaan Tuhan). Setelah beberapa lama kami menikmati pemandangan alam dan berfoto-foto, Kami memutuskan melanjutkan untuk memanjat sebuah batuan besar yang berdiri tegak di hadapan kami (Puncak Garuda). Walau hanya beberapa meter, Tapi menuju puncak garuda sangatlah berbahaya. Titik kemiringanya sendiri saya kurang tau pasti, Yang jelas miring banget deh pokoknya.

Setelah mencapai Top Summit (Puncak Garuda), Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke tenda dan kembali ke jogja pada ke esokan harinya.


*Tidak lupa saya ucapakan  terima kasih sebesar-besarnya For Jesus Kristus yang telah memberikan keselamatan, Kesehatan & Kembali sampai rumah tanpa kekurangan satupun apapun.
*Thank's to Robet Napitupuluh & Anak-anak benua yang tinggal di jogja, PT KAI, Supir Angkot, Tukang Ojek, Pedagang Sego Kucing, Mesin ATM Mandiri & Hidup Mba Mega....Merdeka....Horas.

Monday, June 11, 2012

El Clasico, PSMS Medan Vs Persib Bandung

Belum kering air mata keluarga korban meninggal kericuhan laga Persija Jakarta kontra Persib Bandung, kericuhan antar suporter sepak bola klub Indonesia kembali memakan korban. Seorang suporter Persebaya Surabaya tewas terinjak-injak usai pertandingan antara Persebaya kontra Persija Jakarta dalam lanjutan Liga Primer Indonesia (LPI) di Stadion Gelora 10 Nopember Surabaya.

Kericuhan di dua laga di atas, yang terjadi di kompetisi ISL dan juga IPL, menambah buram potret sepakbola nasional kita. Banyak hal yang menyebabkan suporter bola Indonesia menjadi anarkis. Salah satu yang paling berpengaruh adalah adanya sentimen kedaerahan. Terlebih dengan nama-nama klub liga nasional yang menyandang nama kedaerahan, semakin memupuk fanatisme kedaerahan tersebut.

Faktor lain yang juga sering menjadi pemicu kericuhan adalah faktor wasit dan aparat pertandingan. Antara ketidaktegasan atau pun ketidakadilan wasit dan juga kurangnya penghormatan dari pemain terhadap wasit. Karena itu sering sering kita temui wasit yang berlari menghindari kejaran pemain yang marah. Hal ini mesti menjadi perhatian PSSI.

Satu hal yang paling menyedihkan adalah, apakah ini merupakan cerminan kekisruhan yang juga terjadi dalam kepengurusan PSSI? Mudah-mudahan tidak ada suporter yang beralasan seperti ini. Kalau ini terjadi, jelas ini merupakan tamparan keras bagi kepengurusan PSSI.

Belajar dari Pertandingan Persib vs PSMS Tahun 1985
Untuk semua elemen persepakbolaan nasional, mulai dari pimpinan PSSI, klub, hingga para suporter, mari menengok kembali dan belajar dari sportivitas yang ditunjukkan oleh penonton pertarungan yang melegenda, yaitu Persib vs PSMS Tahun 1986 yang berlangsung di Stadion Senayan (sekarang GBK). Mereka tetap mampu menunjukkan sportivitas yang mengagumkan, bahkan di tengah jumlah penonton yang berjubel dan mencatatkan rekor dengan jumlah penonton sekitar 150.000 penonton, yang mayoritas pendukung Persib.
Final Kompetisi Divisi Utama Perserikatan tahun 1985 yang mempertemukan PSMS Medan versus Persib Bandung tercatat sebagai pertandingan sepakbola paling fenomenal dalam kancah sepakbola Indonesia. Ada dua indikasi yang memperkuat itu.

Pertama, menurut buku Asian Football Confederation (AFC) terbitan 1987, pertandingan itu ditonton oleh sekitar 150.000 orang. Bobotoh Persib dan suporter PSMS membuat Senayan banjir manusia. Spanduk “Kami Medan Bung” berkibar di seluruh penjuru stadion. Ini merupakan pertandingan terbesar dalam sejarah sepakbola amatir di dunia. Saat itu kompetisi perserikatan masih digolongkan ke dalam liga amatir karena para pemainnya belum diikat kontrak yang jelas.

Kedua, meskipun penontonnya demikian banyak, kedua suporter tak saling bentrok sepanjang dan hingga usai pertandingan. Suporter PSMS Medan yang secara geografis lebih jauh dari Jakarta dibanding Jawa Barat, saat itu dikenal sebagai suporter fanatik yang santun. Bahkan, Mamek Sudiono, salah seorang pilar PSMS Medan saat itu pernah menceritakan betapa merindingnya dia memasuki Senayan ketika puluhan ribu suporter PSMS meneriakkan koor horas berkali-kali.

Tak terbantahkan lagi, laga final Kompetisi Perserikatan 1984-1985 antara Persib dan PSMS Medan pada tanggal 24 Februari 1985 telah  menciptakan rekor jumlah penonton dalam pertandingan bola di negeri ini, yang belum terpecahkan hingga kini. Dari kapasitas 120.000 penonton yang tersedia, jumlah penonton yang hadir saat itu mencapai 150.000 yang mayoritas pendukung Persib. Penonton meluber hingga pinggir lapangan, tetapi wasit Djafar Umar mampu menyelesaikan tugasnya dan tidak terjadi kericuhan. Pada laga tersebut PSMS menang 4-3 melalui drama adu penalti setelah skor sama kuat 2-2. Pertandingan ini juga tercatat sebagai pertandingan terbesar dalam sejarah pertandingan amatir di dunia.

Menarik,  Menegangkan, Menguras Emosi, Namun Tetap Sportif
Pertandingan itu sendiri menampilkan permainan yang berkualitas sekaligus menguras emosi penonton, meskipun demikian semua pihak yang terlibat tetap menjunjung tinggi sportivitas, sehingga tak terjadi kerusuhan. Ini juga merupakan pertandingan yang sangat heroik dalam sejarah sepak bola Indonesia. Pertandingan berjalan sangat ketat, saling mengejar ketinggalan gol, hingga akhirnya diselesaikan melalui adu pinalti, dengan skor akhir 4-3 untuk kemenangan tim PSMS. Hebatnya lagi meskipun Persib sebagai ‘tuan rumah” menderita kekalahan, namun tidak terjadi kerusuhan. Padahal pendukung Persib jelas mendominasi jumlah penonton dibandingkan dengan pendukung PSMS. Sungguh ini merupakan cerminan tingginya sportivitas yang sulit dijumpai pada pertandingan sepak bola domestik masa kini.

Begitu kuatnya aura laga Persib vs PSMS tersebut, justru melahirkan persahabatan yang hangat antara Persib dan PSMS kala itu. Pemain-pemain Persib diundang untuk memperkuat PSMS memenuhi undangan Singapura untuk turnamen Piala Merlion. Dan Ajat Sudrajat, Kosasih, Robby Darwis, Sukowiyono dan Iwan Sunarya beberapa minggu mencicipi latihan bersama Ponirin dan kapten Sunardi A dkk di stadion Teladan, Medan. Penonton Medan mengelu-ngelukan Ajat Sudrajat sebagai “Soetjipto Soentoro Baru”.
Pertandingan Persib vs PSMS kala itu sangat sarat dengan pelajaran berharga, bagaimana sebuah sportivitas sebaiknya dikembangkan secara baik dan dewasa, penuh kekeluargaan seperti ciri budaya bangsa Indonesia yang kita kenal selama ini. Begitu sulitkah suporter kita untuk mencontoh keteladanan suporter pada pertarungan Persib versus PSMS kala itu?

Ini Medan Bung, (AS).
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...