Thursday, January 31, 2013

Ir. Soeratin Sosrosoegondo

Ir. Soeratin Sosrosoegondo lahir di Yogyakarta pada 17 Desember 1898 dari keluarga sederhana. Ia adalah seorang insinyur Indonesia dan Ia juga adalah ketua umum PSSI periode 1930-1940 (pertama).

Setelah tamat dari sekolah Koningen Wilhelmina di Jakarta, Soeratin kembali melanjutkan belajarnya di Sekolah Teknik Tinggi di

Hecklenburg, dekat Hamburg, Jerman, pada 1920 dan lulus sebagai insinyur sipil pada 1927. Dan sekembalinya Soeratin dari Eropa pada 1928, ia bergabung dengan sebuah perusahaan konstruksi terkemuka milik Belanda dan membangun antara lain jembatan serta gedung di Tegal dan Bandung.

Namun, pada waktu bersamaan, Soeratin mulai merintis pendirian sebuah organisasi sepak bola, yang bisa diwujudkan pada 1930.
Organisasi yang boleh dikatakan hasil realisasi konkret dari Sumpah Pemuda 1928. Nasionalisme itu dicoba dikembangkan melalui olahraga, khususnya sepak bola. Seperti halnya ipar Soeratin, Dr Soetomo, yang berkeliling Pulau Jawa untuk menemui banyak tokoh dalam rangka menekankan pentingnya pendidikan dan kemudian disusul dengan pendirian Budi Utomo, Soeratin melakukan pertemuan dengan tokoh sepak bola pribumi di Solo, Yogyakarta, Magelang, Jakarta, dan Bandung. Pertemuan itu diadakan secara sembunyi untuk menghindari sergapan Intel Belanda (PID). Pada 19 April 1930, beberapa tokoh dari berbagai kota berkumpul di Yogyakarta untuk mendirikan PSSI (Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia). Istilah “sepakraga” diganti dengan “sepakbola” dalam Kongres PSSI di Solo pada 1950. PSSI kemudian melakukan kompetisi secara rutin sejak 1931, dan ada instruksi lisan yang diberikan kepada para pengurus, jika bertanding melawan klub Belanda tidak boleh kalah. Soeratin menjadi ketua umum organisasi ini 11 kali berturut-turut. Setiap tahun ia terpilih kembali.

Kegiatan mengurus PSSI menyebabkan Soeratin keluar dari perusahaan Belanda dan mendirikan usaha sendiri. Setelah Jepang menjajah Indonesia dan perang kemerdekaan terjadi, kehidupan Soeratin menjadi sangat sulit. Rumahnya diobrak-abrik Belanda. Ia aktif dalam Tentara Keamanan Rakyat dengan pangkat letnan kolonel. Setelah penyerahan kedaulatan, ia menjadi salah seorang pemimpin pekerjaan di Kereta Api.

Hooligan


Beberapa kelompok suporter begitu bangga menyandingkan nama mereka dengan hooligan. Padahal istilah ini sudah dijuruskan kriminal di beberapa negara. Hooligan, walaupun berarti umum, namun penggunaannya dipakai pada aksi brutal yang dilakukan oleh suporter sepakbola. Ada yang menyebut bahwa hooligan merupakan istilah untuk suporter Inggris, dan Ultras dipakai untuk menggambarkan tifosi brutal Italia. Padahal hooligan dan ultras memiliki arti yang berbeda. Dan hooliganisme telah menjadi kepedulian internasional. Jadi peristiwa kerusuhan suporter AS Roma vs Manchester United awal April lalu, tidak bisa dikatakan Ultras vs Hooligan. Kita akan membahas ultras lebih lanjut nanti, namun darimana sebenarnya kata hooligan berasal?

Ada baiknya kita kembali ke Britania Raya di mana kata hooligan pertama kali dipakai. Tentunya tidak hanya satu sumber yang kita dapatkan. Pertama, hooligan dihubungkan dengan seorang preman asal Southwark, Irlandia. Namanya, Patrick Hooligan, tidak jelas tahun berapa pernah hidup dan apa prestasi kriminalnya. Hal ini kemudian dihubungkan dengan pemunculan pertama kata hooligan di kepolisian Inggris yaitu tahun 1989. Bisa jadi laporan tersebut merupakan hasil karya kriminal dari Patrick Hooligan.

Teori berikutnya tentang asal kata hooligan mengarah pada kelompok preman yang menamakan diri mereka Hooley. Tentunya tidak membanggakan ketika nama kita diabadikan menjadi istilah tindak kriminal. Dan akhirnya teori yang terakhir diambil dari etimologi kata hooligan yaitu hooley berarti kumpulan yang liar dan penuh semangat. Hooley sendiri merupakan bahasa Irlandia, yang lagi-lagi merupakan bagian dari Britania Raya.

Masih terbayang tentunya dalam ingatan kita tragedi Catania, Italia, 2 Februari 2007. Seorang polisi tewas akibat tusukan ketika ia mengamankan kerusuhan yang terjadi akibat ulah hooligan. Liga Italia dihentikan selama sepekan oleh pemerintah. Di beberapa negara, hooliganisme mengundang perhatian khusus dari pemerintah. Uni Soviet memasukkan hooliganisme sebagai sebuah tindak kriminal. Dalam pasal 216, disebutkan arti hooliganisme adalah ‘setiap tindakan yang sengaja mengganggu kepentingan umum dan tindakan nyata yang menunjukkan penghinaan terhadap sebuah komunitas’. Aplikasinya, hooliganisme yang dilarang bukan hanya berupa tindakan perkelahian atau perusakan, namun mulai dari penghinaan berupa kata-kata terhadap tim lawan. Walau telah berganti menjadi Rusia, namun undang-undang tersebut tetap diterapkan dan dapat diaplikasikan kepada warga negara yang telah berusia di atas 16 tahun. Kapan Indonesia mau menyusul?

Bonek (Bondo Nekat)

Bonek awalnya adalah kumpulan suporter fanatik pendukung tim Persebaya, akronim dari bandha (dibaca: bondho) nekat (bermodalkan nekat). Seiring perjalanan waktu, mereka membangun apa yang disebut sebagai identitas sosial (social identity) kelompok.

Mereka mengembangkan identitas, peraturan (rule), tata nilai dan perilaku, atribut, serta kultur yang menggambarkan jati diri mereka sebagai kelompok suporter yang bermodalkan kenekatan. Setiap anggota kelompok selanjutnya akan menginternalisasi, mengidentifikasi dirinya, dan membawanya dalam segenap sikap dan perilakunya. Terutama ketika berada dalam komunitas mereka.

Menurut perspektif penulis, cetusan bondho nekat yang kemudian menjadi nama kelompok suporter ini memang membawa implikasi negatif yang cukup serius. Nama (naming) sesungguhnya memiliki arti yang sangat strategis bagi sebuah kelompok karena akan menjadi rujukan dan identifikasi awal bagi anggotanya.
Nekat menggambarkan sebuah situasi keberanian untuk mencapai sebuah tujuan yang cenderung dilakukan tanpa perhitungan yang matang sehingga kerap menghalalkan segala cara dan mengesampingkan kalkulasi etis normatif.

Identitas sosial inilah yang agaknya terinternalisasikan dengan baik dalam ruang batin oknum (untuk tidak mengatakan sebagian besar) bonek. Bonek itu harus fanatik mendukung Persebaya apapun caranya.
Meskipun penulis yakin, bonek sebagai sebuah organisasi tidak pernah mengajarkan hal ini, fakta di lapangan adalah aksioma tak terbantahkan dari kebrutalan anggota mereka.

Dinamika mereka akan menarik dikaji dalam sebuah situasi massa berupa kerumunan (crowd), ketika di sana juga dikibarkan panji dan atribut kelompok bernama bonek.

Meminjam Gustaf Le Bon (1841-1932), massa memang memiliki jiwa tersendiri yang disebutnya sebagai jiwa massa (collective mind) yang bersifat primitif, buas, liar, destruktif, impulsif, cepat tersinggung, sentimentil, sangat mudah disugesti, gampang tersulut provokasi, agresif, anarkis, dan seringkali berlaku di luar kendali aturan.

Jiwa massa ini bisa jadi sangat berbeda dari jiwa individu (individual mind) yang asli/sejatinya. Artinya bahwa individu dengan segenap karakteristk kejiwaannya, ketika telah masuk menjadi bagian dari massa, bisa jadi akan luruh dan larut ke dalam jiwa massa tersebut.

Dalam ranah psikologi, proses ini sebagai deindividuasi, ketika individu tidak lagi mampu mempertahankan identitas kesejatian dan karakteristik pribadinya, digantikan oleh suatu identitas dengan tujuan kelompok. Tanggung jawab pribadi seakan hilang karena semua perilaku adalah bagian dari perilaku kelompok. Implikasinya, individu cenderung melarikan diri dari rasa tanggung jawab dan mengesampingkan konsekuensi tindakannya.

Kondisi ini akan diperparah dengan anonimitas yang makin mengaburkan identitas pribadi, sehingga perilaku antisosial yang dilakukan pun akan semakin tak terkendali karena responsibilitas yang mencapai titik nadir. Instrumen hukum kadang tidak berdaya menghadapi kekuatan massa yang jumlahnya seringkali jauh melebihi aparat penegaknya.

Sepakbola sesungguhnya adalah bagian dari peradaban yang menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas. Sepak bola adalah cabang olahraga yang paling populer yang tidak hanya mengajarkan kebugaran fisik, tetapi juga nilai-nilai kebersamaan, kolektivitas, semangat juang, kerja keras, serta menjunjung tinggi aturan-aturan main.
Sebagai pecinta bola Tanah Air, sungguh penulis merasa sangat prihatin dengan kejadian brutal ini, seraya berharap kasus ini tidak terulang kembali. PSSI sebagai wadah tertinggi persepakbolaan jelas patut dimintai pertanggungjawaban. Prestasi timnas kita yang buruk, liga di Indonesia yang acakadut, mafia wasit, baku hantam antarpemain, kerusuhan dan anarkisme suporter adalah bukti betapa PSSI tidak pernah serius membenahi sepak bola Nusantara.

Bonek adalah sepenggal kisah buruknya wajah persepakbolaan dan kinerja PSSI yang menaunginya. Bukan kali ini saja bonek berulah menebar anarki. Kasus ini menjadi momen istimewa yang semestinya telak menampar PSSI, karena terjadi justru pada saat bonek masih mendapatkan sanksi Komdis PSSI untuk tidak mendampingi pertandingan tandang Persebaya.

Apa yang terjadi sebenarnya tidak sekadar mengabarkan pada kita bahwa Persebaya dan bonek melecehkan sanksi dari PSSI, namun juga fakta bahwa mereka tidak pernah serius berbenah diri. Persebaya tidak mampu mengorganisasikan suporternya yang telanjur mengidentifikasi dirinya sebagai bondho nekat yang fanatik dan bebas melakukan apa saja, termasuk aksi kriminal yang mengangkangi hukum.
Atas nama kepentingan bersama, persepakbolaan Tanah Air dan keadaban serta ketenteraman masyarakat, sanksi yang lebih tegas layak diberikan kepada Persebaya.

Apabila perlu, dieliminasi dari Liga Super untuk memberikan efek jera sekaligus pembelajaran bagi Persebaya dan bonek, serta seluruh pelaku persepakbolaan nasional agar lebih bijak dalam segenap langkah dan kebijakannya. Harapannya, klub dan suporter dapat besinergi secara cerdas dan beradab untuk membangun kekuatan persepakbolaan nasional.

Sungguh tidak bijaksana, apabila dukungan itu justru menjelma menjadi fanatisme picik yang menghalalkan kekerasan dan anarkisme, yang sangat jauh dari sportivitas. Apalagi, jika dukungan tersebut justru menjadi biang perpecahan dan permusuhan di antara sesama anak bangsa dan meruntuhkan keadaban kita.

Sejarah PSSI


Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia, disingkat PSSI, adalah organisasi induk yang bertugas mengatur kegiatan olahraga sepak bola di Indonesia. PSSI berdiri pada tanggal 19 April 1930 dengan nama awal Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia. Ketua umum pertamanya adalah Ir. Soeratin Sosrosoegondo.
PSSI bergabung dengan FIFA pada tahun 1952, kemudian dengan AFC pada tahun 1954. PSSI menggelar kompetisi Liga Indonesia setiap tahunnya, dan sejak tahun 2005, diadakan pula Piala Indonesia. Ketua umumnya saat ini adalah Nurdin Halid yang sempat diusulkan untuk diganti karena tersandung masalah hukum.

Di akhir tahun 1920, pertandingan voetbal atau sepak bola sering kali digelar untuk meramaikan pasar malam. Pertandingan dilaksanakan sore hari. Sebenarnya selain sepak bola, bangsa Eropa termasuk Belanda juga memperkenalkan olahraga lain, seperti kasti, bola tangan, renang, tenis, dan hoki. Hanya, semua jenis olahraga itu hanya terbatas untuk kalangan Eropa, Belanda, dan Indo. Alhasil sepak bola paling disukai karena tidak memerlukan tempat khusus dan pribumi boleh memainkannya.

Lapangan Singa (Lapangan Banteng) menjadi saksi di mana orang Belanda sering menggelar pertandingan panca lomba (vijfkam) dan tienkam (dasa lomba). Khusus untuk sepak bola, serdadu di tangsi-tangsi militer paling sering bertanding. Mereka kemudian membentuk bond sepak bola atau perkumpulan sepak bola. Dari bond-bond itulah kemudian terbentuk satu klub besar. Tak hanya serdadu militer, tapi juga warga Belanda, Eropa, dan Indo membuat bond-bond serupa.

bond-bond itu kemudian terbentuklah Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) yang pada tahun 1927 berubah menjadi Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU). Sampai tahun 1929, NIVU sering mengadakan pertandingan termasuk dalam rangka memeriahkan pasar malam dan tak ketinggalan sebagai ajang judi. Bond China menggunakan nama antara lain Tiong un Tong, Donar, dan UMS. Adapun bond pribumi biasanya mengambil nama wilayahnya, seperti Cahaya Kwitang, Sinar Kernolong, atau Si Sawo Mateng.

Pada 1928 dibentuk Voetbalbond Indonesia Jacatra (VIJ) sebagai akibat dari diskriminasi yang dilakukan NIVB. Sebelumnya bahkan sudah dibentuk Persatuan Sepak Bola Djakarta (Persidja) pada 1925. Pada 19 April 1930, Persidja ikut membentuk Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) di gedung Soceiteit Hande Projo, Yogyakarta. Pada saat itu Persidja menggunakan lapangan di Jalan Biak, Roxy, Jakpus.
Pada tahun 1930-an, di Indonesia berdiri tiga organisasi sepakbola berdasarkan suku bangsa, yaitu Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB)yang lalu berganti nama menjadi Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU) di tahun 1936milik bangsa Belanda, Hwa Nan Voetbal Bond (HNVB) punya bangsa Tionghoa, dan Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI) milik orang Indonesia.
Memasuki tahun 1930-an, pamor bintang lapangan Bond NIVB, G Rehatta dan de Wolf, mulai menemui senja berganti bintang lapangan bond China dan pribumi, seperti Maladi, Sumadi, dan Ernst Mangindaan. Pada 1933, VIJ keluar sebagai juara pada kejuaraan PSSI ke-3.

Pada 1938 Indonesia lolos ke Piala Dunia. Pengiriman kesebelasan Indonesia (Hindia Belanda) sempat mengalami hambatan. NIVU (Nederlandsche Indische Voetbal Unie) atau organisasi sepak bola Belanda di Jakarta bersitegang dengan PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) yang telah berdiri pada bulan April 1930. PSSI yang diketuai Soeratin Sosrosoegondo, insinyur lulusan Jerman yang lama tinggal di Eropa, ingin pemain PSSI yang dikirimkan. Namun, akhirnya kesebelasan dikirimkan tanpa mengikutsertakan pemain PSSI dan menggunakan bendera NIVU yang diakui FIFA.

Pada masa Jepang, semua bond sepak bola dipaksa masuk Tai Iku Koi bentukan pemerintahan militer Jepang. Di masa ini, Taiso, sejenis senam, menggantikan olahraga permainan. Baru setelah kemerdekaan, olahraga permainan kembali semarak.

Tahun 1948, pesta olahraga bernama PON (Pekan Olahraga Nasional) diadakan pertama kali di Solo. Di kala itu saja, sudah 12 cabang olahraga yang dipertandingkan. Sejalan dengan olahraga permainan, khususnya sepak bola, yang makin populer di masyarakat, maka kebutuhan akan berbagai kelengkapan olahraga pun meningkat. Di tahun 1960-1970-an, pemuda Jakarta mengenal toko olahraga Siong Fu yang khusus menjual sepatu bola. Produk dari toko sepatu di Pasar Senen ini jadi andalan sebelum sepatu impor menyerbu Indonesia. Selain Pasar Senen, toko olahraga di Pasar Baru juga menyediakan peralatan sepakbola.

Pengaruh Belanda dalam dunia sepak bola di Indonesia adalah adanya istilah henbal, trekbal (bola kembali), kopbal (sundul bola), losbal (lepas bola), dan tendangan 12 pas. Istilah beken itu kemudian memudar manakala demam bola Inggris dimulai sehingga istilah-istilah tersebut berganti dengan istilah persepakbolaan Inggris. Sementara itu, hingga 1950 masih terdapat pemain indo di beberapa klub Jakarta. Sebut saja Vander Vin di klub UMS; Van den Berg, Hercules, Niezen, dan Pesch dari klub BBSA. Pemain indo mulai luntur di tahun 1960-an.
Sejarah PSSI

PSSI dibentuk pada tanggal 19 April 1930 di Yogyakarta dengan nama Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia. Sebagai organisasi olahraga yang lahir pada masa penjajahan Belanda, kelahiran PSSI ada kaitannya dengan upaya politik untuk menentang penjajahan. Apabila mau meneliti dan menganalisa lebih lanjut saat-saat sebelum, selama, dan sesudah kelahirannya hingga 5 tahun pasca proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, terlihat jelas bahwa PSSI lahir dibidani oleh muatan politis, baik secara langsung maupun tidak, untuk menentang penjajahan dengan strategi menyemai benih-benih nasionalisme di dada pemuda-pemuda Indonesia yang ikut bergabung.

PSSI didirikan oleh seorang insinyur sipil bernama Soeratin Sosrosoegondo. Ia menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Teknik Tinggi di Heckelenburg, Jerman, pada tahun 1927 dan kembali ke tanah air pada tahun 1928. Ketika kembali, Soeratin bekerja pada sebuah perusahaan bangunan Belanda, Sizten en Lausada, yang berkantor pusat di Yogyakarta. Di sana beliau merupakan satu-satunya orang Indonesia yang duduk sejajar dengan komisaris perusahaan konstruksi besar itu. Akan tetapi, didorong oleh semangat nasionalisme yang tinggi, beliau kemudian memutuskan untuk mundur dari perusahaan tersebut.

Setelah berhenti dari Sizten en Lausada, Soeratin lebih banyak aktif di bidang pergerakan. Sebagai seorang pemuda yang gemar bermain sepak bola, beliau menyadari kepentingan pelaksanaan butir-butir keputusan yang telah disepakati bersama dalam pertemuan para pemuda Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928 (Sumpah Pemuda). Soeratin melihat sepak bola sebagai wadah terbaik untuk menyemai nasionalisme di kalangan pemuda sebagai sarana untuk menentang Belanda.

Untuk mewujudkan cita-citanya itu, Soeratin rajin mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh sepak bola di Solo, Yogyakarta, dan Bandung. Pertemuan dilakukan dengan kontak pribadi secara diam-diam untuk menghindari sergapan Polisi Belanda (PID). Kemudian, ketika mengadakan pertemuan di hotel kecil Binnenhof di Jalan Kramat 17, Jakarta, Soeri, ketua VIJ (Voetbalbond Indonesische Jakarta), dan juga pengurus lainnya, dimatangkanlah gagasan perlunya dibentuk sebuah organisasi sepak bola nasional. Selanjutnya, pematangan gagasan tersebut dilakukan kembali di Bandung, Yogyakarta, dan Solo yang dilakukan dengan beberapa tokoh pergerakan nasional, seperti Daslam Hadiwasito, Amir Notopratomo, A. Hamid, dan Soekarno (bukan Bung Karno). Sementara itu, untuk kota-kota lainnya, pematangan dilakukan dengan cara kontak pribadi atau melalui kurir, seperti dengan Soediro yang menjadi Ketua Asosiasi Muda Magelang.

Logo lama PSSI.
Kemudian pada tanggal 19 April 1930, berkumpullah wakil dari VIJ (Sjamsoedin, mahasiswa RHS), BIVB – Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond (Gatot), PSM – Persatuan sepak bola Mataram Yogyakarta (Daslam Hadiwasito, A. Hamid, dan M. Amir Notopratomo), VVB – Vortenlandsche Voetbal Bond Solo (Soekarno), MVB – Madioensche Voetbal Bond (Kartodarmoedjo), IVBM – Indonesische Voetbal Bond Magelang (E.A. Mangindaan), dan SIVB – Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (Pamoedji). Dari pertemuan tersebut, diambillah keputusan untuk mendirikan PSSI, singkatan dari Persatoean Sepak Raga Seloeroeh Indonesia. Nama PSSI lalu diubah dalam kongres PSSI di Solo pada tahun 1930 menjadi Persatuan sepak bola Seluruh Indonesia sekaligus menetapkan Ir. Soeratin sebagai ketua umumnya.
Daftar ketua umum

* Soeratin Sosrosoegondo (1930-1940)
* Artono Martosoewignyo (1941-1949)
* Maladi (1950-1959)
* Abdul Wahab Djojohadikoesoemo (1960-1964)
* Maulwi Saelan (1964-1967)
* Kosasih Poerwanegara (1967-1974)
* Bardosono (1975-1977)
* Moehono (1977)
* Ali Sadikin (1977-1981)
* Sjarnoebi Said (1982-1983)
* Kardono (1983-1991)
* Azwar Anas (1991-1999)
* Agum Gumelar (1999-2003)
* Nurdin Halid (2003-2011 )
* Djohar Arifin Husin (2011-Sekarang)

Tuesday, January 8, 2013

Jadwal PSMS, Kompetisi Divisi Utama PT. LI 2013

Jadwal PSMS Medan

Jadwal Pertandingan Putaran Pertama :

Sabtu, 9 Feb 2013 : PSMS Medan v PS Bengkulu

Kamis, 14 Feb 2013 : PSMS Medan v PS Bangka

Minggu, 24 Feb 2013 : PSAP Sigli v PSMS Medan

Sabtu, 28 Maret 2013 : PSAB Aceh Besar v PSMS Medan

Kamis, 9 Maret 2013 : PSMS Medan v Persiih Tembilahan

Kamis, 14 Maret 2013 : PSMS Medan v Persisko Jambi

Minggu, 24 Maret 2013 : PSMS Medan v PSGL Gayo Lues

 


Jadwal Pertandingan Putaran Kedua :

Kamis, 2 Mei 2013 : PSGL Gayolues v PSMS Medan

Sabtu, 11 Mei 2013 : Persih Tembilahan v PSMS Medan

Kamis, 16 Mei 2013 : Persisko Bungo v PSMS Medan

Sabtu, 25 Mei 2013 : PSMS Medan v PSAP Sigli

Kamis, 30 Mei 2013 : PSMS Medan v PSAB Aceh Besar

Selasa, 4 Juni 2013 : PS Bengkulu v PSMS Medan

Minggu, 9 Juni 2013 : PS Bangka v PSMS Medan



*NB : Jadwal bisa berubah sewaktu-waktu

Daftar Pemain PSMS Medan 2013

Daftar Skuad PSMS Medan 2013 :



KIPER: Herman Batak, Irwin Ramadana, Zulham

BELAKANG: Novianto, Dodi Rahwana, Susanto, Andi Safrizal, Zuh Manda, Hardiantono, Aun Carbiny, Amdre Siteou, Rudi Hartono, Jaka

TENGAH: M Afan Lubis, Alamsyah Nasution, Tri Yudha Handoko, Kiki Lisusanto, Aidun Sastra Utami, Dede Ariandi, Tri Hardiansyah, M Irfan Midin

DEPAN: Nico Susanto, Rinaldo, Afan Lubis, Rico Simanjuntak, Safrial Irfandi, M Irfan, Hendro


Ini Medan Bung (AS).
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...