Sunday, May 4, 2014

Gunung Tampomas (1.684 Mpdl)

Setelah sekian lama vakum dari dunia blog-an, akhirnya hari ini bisa membuat artikel kembali. Dan artikel yang akan saya bahas kali ini mengenai pendakian kami (siluman laba-laba) ke Gunung tampomas, Sumedang.

Sebenarnya pendakian ini akan di ikuti oleh banyak peserta konvensi siluman laba-laba, namun akibat tekanan dunia pekerjaan saat ini cukup romusha. akhirnya pendakian ini hanya di ikuti oleh dua makhluk ciptaan Tuhan yang sangat lucu dan imut. Tepat pada tanggal 18 April 2014, saya dan teman saya yang juga ciptaan Tuhan berkumpul di salah satu tempat yang sangat saya dirahasia kan oleh Pemerintah Somalia (bukan di Starbuck ya). Tepat pukul 00:00 (WIB) kami memulai perjalanan ini yang terasa sangat menyakitkan (ucap Ebiet G Ade), tepat di salah satu pasar konvensional kami menunggu sebuah kendaraan umum yang akan mengantarkan kami menuju pasar induk. Setelah lama menunggu akhirnya datang juga sesosok angkot yang kami cari, dengan penuh keep smile kami pun menaikinya hingga pom bensin cikokol. Tidak menunggu lama, kami pun melanjutkan perjalanan dengan sesosok angkot jurusan kali deres dengan tujuan pasar induk tanah tinggi. Akhirnya kamipun sampai di pasar induk tanah tinggi, kamipun bertanya-tanya kepada beberapa supir mobil yang ada bak nya, tapi sayang mobil yang ada bak nya dengan jurusan Sumedang tak kami jumpai. Setelah duduk-duduk sebentar sambil meminum air yang warnanya hitam, ternyata ada sebuah mobil ber-bak yang ingin keluar! Kami pun menstop-kanya, setelah berbincang dengan sang kodok...eh salah, sang sopir maksudnya. Kami pun sepakat menaikinya, dengan asumsi turun di tol cileunyi. Malam semakin larut, tanpa aba-aba kamipun tidur selama perjalanan Tangerang-Cileunyi. (Zzzz...)

Tak di nyana tak di kira, mobil pun berhenti di pinggir jalan dan si sopir pun turun. Saya yang sedang tidur pun akhirnya terbangun sambil mencari tau apa yang terjadi sehingga sang supir berhenti (takutnya nanti kami di perkosa, ih serem). Ternyata dugaanku salah, sang supir menepikan mobilnya karna ingin membangunkan kami soalnya kesepakatan kami dan supir kami turun di Cileunyi. Setelah memberi sedikit tips kepada sang supir kami pun harus berpisah dengan sang supir (berat rasanya meninggalkan sang supir & keneknya). Tak lama berpisah dengan sang supir kamipun mencari seonggok sarapan makanan sebelum melanjutkan perjalanan ke sumedang. Tak jauh dari tempat kami turun, nampak lah sesosok tukang bubur yang mungkin belum pernah naik haji. Karna tuntutan perut kamipun memesanya.

Bubur pun telah habis dan angkot Elf tujuan Sumedang pun datang, lalu kamipun menaikinya, sepanjang  perjalanan Cileunyi-Sumedang di hiasi oleh pemandangan pegunungan  & pembangunannya jalan tol yang menembus pegunungan . Setelah beberapa jam perjalanan kami pun sampai di. RM Tampomas (pintu masuk jalur pendakian Cibeureum ), di sini pun kami menyempatkan berbelanja sedikit kebutuhan logistik di sebuah minimarket. Di minimarket tersebut kami sempat berpapasan dengan pendaki Jakarta yang baru  turun dari Gunung papandayan. Para gerombolan tersebut ternyata ingin melanjutkan perjalanan ke Gunung tampomas. Setelah selesai berbelanja, ngopi & cash HP kami lanjut menumpangi sebuah truk dengan tujuan penambangan pasir.

Kamipun sampai di penambangan pasir, sambil istirahat sebentar di sebuah Warung kecil di penambangan,  tangan kamipun menjulurkan ke sebuah wadah yang berisi berbagai macam gorengan (tergiur wangi makanan).  Setelah perut terasa penuh sesak padat merayap, kami melanjutkan perjalanan, berselang beberapa lama perjalanan kami berpapasan dengan pendaki lokal yang bertujuan sama. Kamipun mendaki bersama-sama hingga Pos 1. Di pos 1 ini saya dan yang katanya teman saya berpisah dengan pendaki lokal tersebut, di karena kan kami ingin mencari air buat bekal selama pendakian. Apes bukan kepalang, mata air yang kami cari tidak ada. Di sini kami berdua sempat diskusi panjang tentang air tersebut. Bahkan saya sempat tertidur di pos 1 sambil menunggu penduduk lokal untuk menanyakan tempat mata air, tak lama terdengarlah suara sebuah motor clasik yang mungkin cicilannya sudah lunas. Akhirnya si pengendara motor tersebut berhenti di hadapan kami, kamipun menanyakan keberadaan mata air tersebut. Ternyata mata air yang kita cari pun sudah kami lewati. Sayapun melanjutkan diskusi dengan rekan saya ini, tapi di diskusi kali ini tidak ada debat loh (emangnya kami anggota DPR RI) #Eeaa

Setelah berbincang-bincang sebentar dengan bapa tua si pengendara motor tersebut, bapa tua tersebut pun memberikan bekal airnya kepada kami (saya percaya ini titipan sang pencipta melalui bapa tua tersebut). Stok perbekalan air kami pun bertambah menjadi 2 liter air mineral & 1 1/2 liter air bukan mineral. Kami pun sepakat melanjutkan perjalanan dengan asumsi air mineral tersebut cukup untuk kita minum & masak selama pendakian naik & turun.

Pos1 pun kita tinggalkan, tak lama pendakian akhirnya kami bertemu pendaki Jakarta yang kami temui di minimarket bawah tadi (ternyata mereka hanya naik turun tanpa Ngecamp) Kamipun berbincang sedikit tentang jalur pendakian, ternyata jalur pendakian Gunung tampomas di hiasi dengan Pacet "Ucap rombongan Jakarta".

Setelah beberapa jam menapaki jalur yang cukup terjal, akhirnya kamipun sampai di puncak Gunung Tampomas sore hari. Di puncak telah ada satu kelompok pendaki lokal yang sudah membuat tenda terlebih dahulu, dan kami segera mendirikan tenda tepat di sebelah pendaki lokal tersebut. Tak lama berselang muncul juga rombongan pendaki lokal di puncak. Total kesemuahan ada 4 tenda berdiri di puncak Tampomas. setelah isi perut selesai kami pun tidur untuk mengisi ulang tenaga kami.

Pagi pun tiba, setelah selesai Foto-foto & sarapan pagi, Kami pun bergegas melanjutakan perjalanan menuju petilasan Prabu Siliwangi (Katanya sih). Berhubung dari puncak ke petilasan hanya beberapa meter, Jarak yang di tempuhpun kurang lebih hanya 5 menit. Setelah semua selasai, Akhirnya kami pun turun melalui jalur yang beda pada saat pendakian. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...