Monday, April 16, 2012

Gunung Karang (1.778 Mpdl)


Apakah anda seorang pencinta alam atau seorang yang gemar berpetualang? Kalau iya, tak lengkap rasanya bila anda belum pernah mendaki Gunung Karang di kawasan kabupaten Pandegelang – Banten. Sebuah Gunung dengan tinggi kurang lebih 1778 meter di atas permukaan laut. Ibarat seorang gadis gunung ini masih amat sangat Virgin, dalam arti belum tersentuh oleh tangan-tangan jahil manusia.

Hari Jumat pagi yang bercuaca cukup cerah, saya memacu kaki saya menuju rumah seorang teman  saya Nandar di kawasan Perum, Karawaci. Pada hari itu saya dan teman saya mulai berangkat untuk mendaki Gunung Karang dan menikmati pemandangan alamnya yang amat elok nan eksotis. Setelah menikmati kopi pagi bikinan nyokap  akhirnya saya memutuskan untuk memulai perjalanan. Waktu masih menunjukkan pukul 10:00 pagi ketika kami mulai berkumpuyl.

Di dalam perjalanan kami bertanya ke sana- kemari, karena minimnya informasi yang kami ketahui tentang Gunung ini. Beruntung sekali setelah bertanya-tanya pada beberapa orang, Akhirnya kami sampai di makam Pahoman, Tepapnya di bawah kaki Gunung Karang. Setelah kami melakukan ziarah di Makam Pahoman akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke Dusun Kaduengang dengan berjalan kaki, Keduengan adalah sebuah dusun kecil nan sunyi di kaki Gunung Karang yang biasa dipakai start para pendaki. Sampai di dusun Kaduengang pada malam hari, Dengan di temani warga pemilik POS setempat kami akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pendakian pada esok pagi hari. Sungguh di luar dugaan kami sebelumnya, ternyata akses untuk pendakian teramat sulit, belum ada jalan semi permanen seperti layaknya gunung-gunung yang biasa dikunjungi oleh para pendaki. Gunung ini benar-benar seperti masih perawan. Dalam perjalanan pendakian, kami bertujuh tak jarang harus berhati-hati, bahkan kadang-kadang jatuh terantuk akar pohon ataupun berguling karena terpeleset (maaf lebay dikit...).

Baru sekitar seperlima jarak tempuh perjalanan, tenaga kami benar-benar seperti terkuras, nafas tersengal-sengal, Apalagi beberapa teman saya yang usianya sudah relatif tua di banding anak SMP sudah muntah-muntah di awal perjalanan, tentu saja kondisi fisiknya agak mengganggu proses pendakiannya. Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat sebentar dan menghabiskan satu batang rokok, Setelah kami menghabiskan sabatang rokok, kemudian meneruskan perjalanan.

Di tengah pendakian kami bertemu dua orang penduduk yang berjaga di pos darurat sambil berdagang kecil-kecilan, menurut penuturanya kawasan lereng Gunung Karang menyimpan banyak tempat – tempat yang dikeramatkan, diantaranya makam seorang raja, pertapa dan lain-lain. Di kanan kiri jalan setapak yang kita lalui tumbuh pohon-pohon raksasa yang umurnya mungkin sudah ratusan tahun, gelapnya kabut membuat cabang-cabang pohon tersebut seperti tangan-tangan raksasa yang siap mencengkram manusia-manusia yang bermaksud jahil di kawasan ini. Di tengah perjalanan kami harus berhadapan dengan serangan hawa dingin, ditambah guyuran air hujan yang sedikit deras juga terpaan angin yang amat kencang.

Semakin ke atas, Jalur pendakian semakin terjal dan semakin licin dan tak jarang membuat kami kadang-kadang harus jatuh terpeleset. Sampai di Pos 3 kami semua sedikit kebingunggan jalan jalur pendakian menuju Puncak karang. Kami semua sempat mencoba-coba jalur yang ada di persimpangan jalan menuju puncak sumur tujun, Tapi yang kami dapat hanya jalan buntu dan jalur menujuh dataran rendah.

Setelah melakukan diskusi sebentar dengan beberapa teman, Akhinya kami memutuskan untuk turun ke bawah dan sambil berharap akan datang kesempatan yang lain menuju Puncak Gunung Karang (7 sumur). Setelah di rasa cukup melakukan diskusi akhirnya kami memutuskan untuk turun, saat itu waktu kira-kira menunjukkan Siang hari. Dan tepat Sore hari akhirnya kami sampai di tempat kami bermalam waktu pertama datang.


*Bagi anda yang ingin berkunjung kesana menggunakan kendaraan umum dari jakarta, Sangat disarankan untuk turun di Pantos (Pandeglang town square). Kemudian dari Pantos dilanjutkan menuju dusun Kaduengang dengan mencarter angkot sampai dusun Kaduengang (Kaki Gunung Karang).


1 comment:

  1. mantaaap infonya... salam kenal.. jng lupa kunjungan baliknya..

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...